Breaking News
Home / Kolom Dekan / TIPOLOGI EKSTREMISME ISLAM DI INDONESIA (8) Oleh: Muhyar Fanani

TIPOLOGI EKSTREMISME ISLAM DI INDONESIA (8) Oleh: Muhyar Fanani

Pendahuluan

 

Walaupun Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjalin kerukunan baik dengan sesama muslim maupun dengan pemeluk agama lain (an-Nisa’: 128, al-Hujurat: 9,10), terdapat beberapa tokoh muslim yang menyerukan permusuhan. Anehnya, seruan itu diyakini sebagai pembelaan atas Islam itu sendiri. Terdapat logika yang tidak bertemu antara seruan hidup rukun dan seruan untuk bermusuhan. Seruan hidup rukun merupakan jiwa ajaran yang didukung banyak dalil, sementara seruan bermusuhan didasarkan pada dalil yang sedikit jumlahnya dan sangat kasuistik. Al-Anfal (8): 39, 60, an-Nisa’ (4): 56, Muhammad (47): 4, dan an-Nisa’ (4): 89 merupakan ayat yang secara eksplisit mengijinkan permusuhan walaupun sesungguhnya ayat itu sangat erat kaitannya dengan sebab-sebab khusus. Sebagian muslim lebih tertarik untuk menangkap ayat-ayat yang kasuistik itu secara literal dan meyakininya sebagai perintah Islam.

Cara pandang literalisme terhadap ayat-ayat kasuistik itu menginspirasi beberapa tokoh muslim untuk memiliki sikap dan keyakinan yang bernuansa permusuhan. Cara pandang literalisme terhadap ayat-ayat kasuistik itu menjauhkan para penganutnya dari sinaran jiwa syariat. Syariat yang menjunjung tinggi perdamaian dipahami sebagai penyeru permusuhan. Ceramah agama yang mestinya menyejukkan berubah menjadi ajang penghasutan. Ceramah-ceramah itu memprovokasi masa untuk mengoyak kerukunan hidup bangsa baik kerukunan sesama muslim maupun kerukunan antara muslim dan non muslim.

Tulisan ini mendiskusikan tipologi ekstremisme Islam di Indonesia. Tujuan pembahasan ini tiada lain untuk memberikan gambaran bahwa pemahaman ekstremisme mampu meumbuhkan pemahaman yang mengandung kebencian yang berpotensi mengoyak kerukunan antar warga. Tulisan ini diharapkan bisa menjadi bahan renungan guna mencegah dan menangkal berkembangnya Islam ekstrem di bumi pertiwi.

 

Literalisme dan Ekstremisme

 

Literalisme dan ekstremisme dalam Islam memiliki kaitan yang erat. Keduanya sangat mirip. Dalam sebuah tulisannya Gusdur berpandangan bahwa gerakan ekstremisme adalah kelompok-kelompok garis keras yang mengukur kebenaran pemahaman agama secara ideologis dan politis bukan berdasarkan semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. Gerakan macam ini sesungguhnya mewarisi kebiasaan ekstrem khawarij yang suka mengkafirkan dan memurtadkan siapapun yang berbeda dari mereka. Gerakan ini memahami keimanan secara monolitik.[1] Gerakan semacam itu sangat mirip dengan literalisme. Literalisme adalah sebuah cara memahami sumber tertulis atau lisan secara apa adanya tanpa memperhatikan situasi dan kondisi yang melatarbelakangi munculnya tulisan atau pernyataan itu. Literalisme menghasilkan pemahaman yang kaku dan tertutup. Suatu masyarakat atau kelompok akan cenderung tertutup dan memandang orang lain salah bila dihinggapi literalisme. Itulah makanya, literalisme mengancam harmoni kehidupan bermasyarakat, termasuk kerukunan umat beragama.

Literalisme mengancam kerukunan hidup beragama bila para pemeluknya menggunakannya untuk memahami kitab sucinya. Mengapa? Semua kitab suci turun dalam situasi kesejarahan tertentu. Bila situasi kesejarahan ini diabaikan, beberapa teks dalam kitab suci akan berubah menjadi senjata yang tak bertuan. Para pembaca tekslah yang kemudian akan menjadi tuannya. Bila tuannya kebetulan berhati baik, maka teks itu akan berguna bagi kehidupan bersama. Sebaliknya, bila tuannya berhati kurang baik, atau bahkan jahat, maka teks itu akan bisa menjadi jahat.

Terdapat beberapa contoh pemahaman literal atas teks suci yang dilakukan oleh beberapa orang. Pemahamannya sungguh dipengaruhi oleh suasana batin yang penuh kebencian, baik dilakukan oleh outsider muslim maupun insider muslim. Dari kalangan outsider diantaranya Geert Wilders dengan Film Fitna-nya, Salman Rushdi dengan buku Ayat-ayat Setan-nya, Kurt Westergaard dengan kartun Nabi Muhammad-nya. Sementara dari kalangan insider muslim diantaranya Komando Jihad, Hizb at-Tahrir, Jamat al-Muslimin.[2] Di Indonesia, menurut Merlyna Lim, pemahaman literal semacam ini dimiliki oleh Laskar Jihad, FPI, dan Laskar Mujahidin Indonesia.[3] Pemahaman literal yang hitam putih bisa mengancam kerukunan umat beragama.

Terdapat beberapa cara bagaimana literalisme mengancam kerukunan umat. Pertama, literalisme membentuk model pemahaman sempit atas teks al-Qur’an dan Sunah.  Pemahaman Islam diperoleh dengan cara menggali makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan oleh para ahli. Namun, sejak institusi keulamaan berkurang otoritasnya di hadapan umat, tugas penggalian makna ini dilakukan oleh hampir semua orang tanpa mempedulikan persyaratan tertentu. Bisa ditebak, bila orang-orang tanpa keahlian ini menggali langsung kandungan al-Quran dan Sunnah yang diperoleh hanyalah makna literal yang dangkal. Anehnya, makna literal ini semakin banyak digemari karena simpel, mudah dipahami, tanpa membutuhkan intelektualitas tinggi, dan mudah dirujuk indikator tekstualnya dalam al-Quran dan Sunnah. Selain itu, mudah dikenalinya kriteria benar salah, yakni ada tidaknya referensi tekstual membuat para penganutnya merasa nyaman secara psikis, tanpa memedulikan watak alami literalisme, yakni kekakuan dan kesempitan pemahaman.

Kekakuan dan kesempitan pemahaman menjadikan penganut literalisme sulit menerima cara pandang orang lain. Penganut literalisme bagai kuda dan kacamatanya. Bila seekor kuda telah dipakaikan kacamata khasnya, maka kuda itu tak mampu lagi melihat sisi kiri dan sisi kanan apalagi sisi belakang. Ia hanya melihat sisi depan. Betapa malangnya si kuda. Ia tidak lagi mampu melihat indahnya pepohonan di tepi jalan atau kuda betina yang cantik di pinggiran jalan. Sungguh beruntung bila jalan yang disorongkan kepadanya adalah jalan menuju tempat yang indah. Sebaliknya, sungguh malangnya ia, bila jalan yang disodorkan itu adalah jalan menuju jurang. Maka dari itu, kuda yang demikian membutuhkan kacamata yang tidak membelenggunya. Kacamata yang tidak membelenggu itu adalah pemahaman kontekstual.

Kedua, pemahaman sempit membentuk sikap orang/kelompok/masyarakat menjadi intoleran. Bila masyarakat awam dimasuki oleh literalisme maka yang terjadi ibarat gelas kosong yang diisi air kopi. Gelas itu akan tak tampak lagi warna aslinya kecuali warna hitam. Bila orang awam dimasuki literalisme, maka ia akan kehilangan watak dasarnya sebagai manusia makhluk sosial. Watak suka bergaul menjadi hilang tinggal watak suka menutup diri. Ia kemudian hanya bergaul dengan kelompoknya yang sepaham. Bila literalisme menjangkiti Bangsa Indonesia, maka watak asli bangsa menjadi terkikis. Bangsa yang semula ramah menjadi bengis. Bangsa yang dulu penuh kerukunan menjadi penuh kebencian. Bangsa yang semula cinta damai menjadi suka bertikai. Inilah yang terlihat akhir-akhir ini di bumi Indonesia.

Sebagian muslim Indonesia telah tergiur dengan rayuan literalisme melalui berbagai wadahnya. Saya tidak akan menuduh kelompok mana yang mengusung paham literalisme Islam di Indonesia kontemporer. Saya hanya akan memberikan ciri-cirinya saja. Mereka yang bisa dimasukkan dalam kelompok literalisme adalah mereka yang merasa cukup dengan pemahaman harfiah al-Qur’an dan Sunah serta mengabaikan warisan intelektual keislaman dalam sejarah.  Bila dalam ilmu hukum dikenal dengan istilah jurisprudensi, yakni keputusan hakim pada masa lalu yang digunakan untuk memutuskan perkara masa kini yang mirip, maka kelompok literalisme tidak mengakui istilah jurisprudensi. Permasalahan hari ini cukup diselesaikan dengan mengacu pada referensi tekstual  al-Quran dan Sunnah.

Mengacu referensi tekstual di bumi Indonesia yang plural akan mengalami banyak benturan. Mengapa? Indonesia sejak dahulu kala dihuni oleh banyak suku bangsa dan agama. Literalisme mengingkari kesejarahan Indonesia yang kaya dengan keberagaman. Literalisme memang memiliki watak untuk mengusung keseragaman, utamanya keseragaman dalam pemahaman. Itulah makanya, penganut literalisme sulit mempraktikkan toleransi. Sebaliknya literalisme akan menyuburkan intolerasi.

Ketiga, sikap intoleran memicu permusuhan. Toleransi bagi Indonesia yang penuh dengan keragaman merupakan sebuah keniscayaan. Watak dasar orang Indonesia adalah menghormati orang lain. Alat untuk memiliki watak itu bernama rasa. Orang Indonesia yang tulen akan memadukan antara tuntutan akal dan panggilan rasa secara seimbang. Itulah makanya, orang Indonesia memiliki kebiasaan untuk merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain. Penelitian saya menyimpulkan bahwa rasa yang dimaksud dalam falsafah Indonesia adalah rasa-hati-nurani, yaitu sebuah rasa kejiwaan yang dibimbing oleh ajaran ketuhanan.[4] Maka, literalisme akan menghilangkan watak dasar manusia Indonesia yang penuh dengan rasa atau empati. Bila rasa sudah mati, maka akan hilang sikap menghormati orang lain (toleransi).  Bagi masyarakat Indonesia yang penuh keragaman, toleransi amatlah penting. Bila toleransi telah hilang, maka ikatan perekat antar suku akan menjadi renggang. Bila ikatan perekat tiada, maka permusuhan akan merajalela.

Keempat, sikap permusuhan merusak kerukunan. Kasus bentrok horisontal di Lampung, Sampang, dan Papua dalam tahun 2012 menunjukkan sikap permusuhan telah mengoyak kerukunan antar warga.  Literalisme menyumbangkan bentrok itu dengan amat nyata. Literalisme terhadap berita penyerangan sekelompok orang terhadap beberapa orang bagian dari kelompok lain telah membuat banyak rumah terbakar di Lampung dan suku-suku saling bertempur di Papua. Literalisme telah merayu mereka untuk tidak melakukan tabayun , mencari duduk permasalahan yang sebenarnya. Literalisme masyarakat Sampang atas berita kesesatan kelompok Syiah di Sampang, telah membuat sekelompok masyarakat menyerang kelompok Syiah dan membakar rumah mereka. Sungguh literalisme telah menimbulkan permusuhan yang mengoyak kerukunan hidup masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah semestinya mewaspadai literalisme baik terhadap berita dari kitab suci maupun terhadap berita dari luar kitab suci, khususnya masyarakat. Terhadap Al-Qur’an, misalnya, banyak dijumpai teori yang menekankan pentingnya menimbang sesuatu berdasarkan duduk permasalahannya. Ilmu ushul fiqh mengajarkan al-ibratu bikhusus as-sabab la bi umum al-lafzh ([Mencerna] ungkapan itu berdasarkan sebabnya yang khusus bukan berdasarkan lafazhnya yang umum). Bila literalisme harus dianut, maka ilmu ushul fiqh mengajarkan literalisme hanya dibatasi dalam teks-teks yang menyangkut ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang sudah ditentukan tatacara dan bentuknya oleh al-Quran dan Sunah. Sebaliknya, dalam hal selain ibadah mahdhah apalagi muamalah, literalisme tidak dibenarkan untuk digunakan. Alasannya tiada lain adalah  agar menyangkut hubungan sesama manusia, seseorang tidak menggunakan ayat-ayat Al-Quran dan teks Sunnah sebagai pembenar bagi segala tindakannya. Kekhawatiran ini tidak berlaku bagi ayat-ayat yang mneyangkut ibadah mahdhah, karena ayat-ayat itu telah menentukan tatacara menjalankannya. Disamping itu, ayat-ayat itu hanya mengatur hubungan manusia terhadap Allah dan tidak mengatur manusia dengan manusia lain. Singkatnya, untuk ayat-ayat non ibadah mahdhah, manusia memang harus waspada pada literalisme yang bisa menjadi senjata yang mematikan bila jatuh pada orang yang berwatak jahat.

Untuk menghindarkan sifat jahat saat membaca kitab suci, maka Abu Ishaq asy-Syathibi (w. 1388) mengusulkan pentingnya al-istiqra’ al-ma’nawi (thematic induction).[5] Al-istiqra’ al-ma’nawi adalah cara memahami ayat-ayat dalam kitab suci yang tidak semata-mata berpijak pada pemahaman literal suatu ayat tetapi dipadukan dengan semangat umum dari ayat-ayat yang setema. Dengan al-istiqra’ al-ma’nawi, pemahaman atas suatu ayat tidak disandera oleh indikasi lahiriah tetapi dipandu oleh makna batin dari semua ayat yang membicarakan topik yang sama. Kekhawatiran asy-Syathibi ini cukup beralasan, mengingat leteralisme ternyata menjadi bahaya laten sepanjang sejarah umat Islam. Literalisme akan menjadikan pemahaman suatu ayat terlepas dari jiwa syariat. Contoh-contoh pemahaman literalisme terhadap ayat al-Quran dapat dijumpai dalam film, statemen, dan ceramah tokoh-tokoh agama yang terpublikasi melalui media internet terutama youtube. Sebagai negeri muslim terbesar di dunia yang aman, Indonesia sedang menjadi tarjet penyebaran ideologi ekstrem yang bersumber dari paham literalisme tersebut.

 

Pola Makan Bubur Panas: Gerakan Ekstremisme di Indonesia

 

Pola Gerakan Ekstremisme di Indonesia seperti pola makan bubur panas, dari tengah ke pinggir. Haedar Nashir mendeteksi terdapat 12 pola yang ia sebut pola makan bubur panas atau pola air mengalir dari tempat yang paling rendah terus mengalir dan lama-lama menjadi air bah. Kedua belas pola tersebut adalah: [6]

  1. Masuk ke lingkungan yang sepaham atau mirip sehingga mudah diterima tanpa kecurigaan.
  2. Mula-mula menyembunyikan paham dan tujuan yang sebenarnya kemudian ideologinya diterima khalayak.
  3. Mencetak aktor-aktor lokal yang militan.
  4.  Memanfaatkan suasana rentan dalam tubuh organisasi dan menciptakan citra lebih baik.
  5. Menjalankan teori belah bambu, yakni mendukung total yang simpatik dan menghabisi total yang menentang.
  6. Menyuburkan benih kecemasan pada ideologi lama dan menawarkan ideologinya yang dicitrakan lebih baik.
  7. Menyuburkan idiom yang baik untuk ideologi sendiri dan menciptakan negatif untuk ideologi lawan.
  8. Menjalankan taqiyyah, menyembunyikan agenda ideologinya.
  9. Menampilkan diri sebagai ideologi alternatif dengan prinsip air mengalir melalui celah-celah sempit. Strategi yang ditempuh diantaranya adalah pendekatan finansial dalam bentuk bantuan keuangan, pembangunan masjid, kebersihan gratis di masjid-masjid, penyusupan dalam lembaga pendidikan yang telah ada (melalui ROHIS, senat mahasiswa, halaqah di kampus), membangun lembaga pendidikan sendiri, hingga tawaran bantuan keuangan ke pemerintah.[7]
  10. Tumbuh dan mekar berkat adanya aktor lokal dalam organisasi yang dimasukinya.
  11. Memanfaatkan pihak-pihak kecewa dalam suatu organisasi untuk menjadi agen ideologinya.
  12. Menggunakan secara masif media untuk menyebarkan benih ideologinya. Salah satu media yang sering digunakan adalah media internet yang amat dekat dengan generasi muda Indonesia. Model pemahaman dan propaganda paham ekstrem mudah sekali dijumpai di Youtube.

 

Ekstremisme Islam dan kebencian di Youtube

 

Agen-agen ekstremisme di Indonesia memanfaatkan teknologi internet guna menyebarkan ideologi tertutupnya dengan harapan mudah menarik pengikut muda. Genrasi muda memang mudah mengikuti perkembangan teknologi internet. Menyebarnya media internet ke dunia muslim membawa perubahan yang dasyhat bagi tata kehidupan masyarakat muslim. Cara berpikir sekelompok orang atau pribadi dapat dikonsumsi dengan bebas tanpa filter. Bila pengakses internet telah memiliki filter pribadi dalam menyikapi cara berpikir tertentu, internet akan menjadi sarana pendidikan yang mencerdaskan. Namun bila pengakses adalah orang yang belum terbentuk pola pikirnya, pikirannya akan dibentuk oleh media yang diaksesnya, termasuk pola pemahaman keislamannya.

Material keislaman yang tersebar di internet mampu membentuk pola pemahaman agama pengaksesnya. Saat ini material keislaman di internet bagaikan bahan masakan yang amat kaya. Ibarat seorang ibu, seorang pengakses yang akan mempelajari Islam akan mendapatkan kebebasan yang tanpa batas dalam menentukan menu masakan yang akan dibuatnya. Pemahaman Islam jenis apakah yang akan dipilihnya. Mengapa demikian? Kini keragaman model pemahaman Islam di Indonesia, bahkan di dunia, adalah fakta sejarah yang bisa dilihat dengan mudah dan jelas di internet. Tak ada pemandu lagi bagi pembelajar Islam kecuali dirinya sendiri. Bila dulu di pesantren atau surau, peran guru amatlah sentral, kini peran semacam itu telah terkikis. Seseorang bisa dengan mudah membuat ramuan pemahaman Islamnya berdasarkan apa yang dia lihat di internet. Bila ramuannya kebetulan pemahaman yang mendukung kerukunan hidup beragama, maka pemahaman Islamnya akan menyejukkan. Sebaliknya, bila ramuannya terdiri-dari material yang menebar kebencian, pemahamannya akan membahayakan kerukunan hidup beragama.

Walaupun telah terjadi berbagai aksi kekerasan oleh beberapa kelompok Islam, namun secara umum, umat Islam Indonesia sesungguhnya masih cinta damai dan menyukai hidup damai. Penelitian Ihsan Ali-Fauzi menyatakan bahwa dari konflik keagamaan yang ada di Indonesia sejak 1990-2008, dua pertiga menempuh aksi damai sementara sepertiganya menempuh aksi kekerasan. Dari konflik keagamaan dalam bentuk kekerasan, pelaku terbanyak terdiri dari masyarakat umum disusul teroris dan kemudian para kelompok keagamaan. Dengan demikian, mayoritas aktivis keagamaan masih menyukai aksi damai dalam menjalankan konfliknya,[8] tidak seperti yang diduga oleh kebanyakan orang bahwa para aktivis Islam sangat menyukai aksi kekerasan. Buku Khaled Abou el-Fadhl juga menyebutkan bahwa sesungguhnya jumlah para ekstremis yang suka kekerasan itu hanya di bawah 1 % dari  total populasi muslim dunia. Namun karena jumlah yang kecil itu bersuara lebih lantang bahkan kadang-kadang dengan senjata (tajam), maka seakan-akan jumlah mereka banyak dan mewakili total karakter umat Islam.[9] Salah satu penyebab tampak besarnya mereka adalah tayangan media cetak maupun elektronik. RUU kerukunan umat beragama semestinya menghidupkan watak dasar hidup beragama bangsa Indonesia yang penuh cinta damai dan mencermati akar penyebab munculnya pemahaman agama yang penuh kebencian itu.

Penulis berpandangan bahwa material yang menebarkan pemahaman yang membahayakan kerukunan hidup beragama adalah material yang didasari oleh cara pandang literalisme terhadap ayat-ayat al-Quran. Cara pandang literalisme yang demikian sangat jelas terlihat dalam film pendek berjudul Fitna yang dibuat oleh Geerts Wilders. Ia mengumpulkan berbagai cuplikan adegan kekerasan termasuk penabrakan pesawat ke Worldtrade Center AS yang menurut pemahamannya dipicu oleh ayat-ayat al-Qur’an. Pandangan anehnya itu dihimpun dalam film pendek berdurasi 16,48 detik yang dirilis via internet pada tanggal 27/03 dan 6/04 2008. Fitna yang script-nya ia buat dan penggarapannya disutradarai Scarlet Pimpernel itu merupakan kesimpulan liarnya dari potongan ayat-ayat perang seperti Al-Anfal (8): 39, 60, an-Nisa’ (4): 56, Muhammad (47): 4, dan an-Nisa’ (4): 89. Ia berkeyakinan bahwa tindak kekerasan yang mengatasnamakan Islam merupakan perintah dari ayat-ayat tersebut. Maka ia pernah mengusulkan dicoretnya ayat-ayat perang dari Alquran. Padahal ayat-ayat itu harus dipahami terkait dengan konteks yang dihadapi Nabi di Semenanjung Arab abad ke-7M. Ini tidak dilakukan Wilders.

Akibat pembacaan ayat yang lepas dari konteks itu, Wilders menghasilkan kesimpulan yang invalid. Itu sama persis dengan seorang wanita yang memegangi nasihat almarhumah ibunya. Saat ia berumur 12 tahun, sang ibu berkata, “Nak, kamu tidak boleh pacaran sama pria. Pokoknya, kamu tidak boleh dekat-dekat sama yang namanya laki-laki.” Si gadis belia itu terus memegangi kata-kata ibunya hingga ia berumur 50 tahun. Akibatnya, ia tetap belum dapat jodoh. Setiap laki-laki yang ingin mempersuntingnya, ia tolak karena takut akan nasihat sang ibu. Sekali lagi, pemahaman yang lepas dari konteks akan membuat seseorang tersesat.

Video literalisme keislaman yang mengancam kerukunan umat beragama bukan hanya muncul dari outsiders muslim tapi juga dari insiders muslim. Saat menulis tulisan ini, saya memperhatikan potongan video ceramah ust. Sobri Lubis, sekjen FPI, yang tersebar di Youtube (video 1).  Ia mengatakan “…kalau nanti ternyata pemerintah nggak bisa (membubarkan Ahmadiah), maka kami nyatakan, kami ajak umat Islam…untuk kita perangi Ahmadiah, bunuh Ahmadiah dimanapun mereka berada…nggak papa bunuh…lue merusak akidah gue…” Pernyataan ini selain memicu kebencian juga mencerminkan literalisme dalam mendefinisikan siapa sesungguhnya yang merusak akidah. Penceramah melakukan dua tahap literalisme. Pertama, karena pernah merasa melihat ada ayat Al-Quran membolehkan membunuh, maka ia meyakini bahwa membunuh itu hal yang boleh. Padahal, ayat itu sangat terkait dengan konteks tertentu. Kedua, Menerapkan hukum bolehnya membunuh kepada Ahmadiah. Bila semua orang yang berbeda konsep kenabian Muhammad, seperti Ahmadiah,  dianggap merusak akidahnya dan halal darahnya, betapa kejamnya Islam. Bila orang yang mengingkari Nabi  Muhammad harus dibunuh, pastilah Nabi tak akan memiliki teman kecuali 3 orang, yakni Khadijah, Abu Bakar, dan Ali. Saat Nabi memproklamirkan kenabiannya, taak ada yang percaya kecuali 3 orang itu. Kenyataannya, Nabi tidak pernah membunuh orang yang meragukan kenabiannya.[10]  Peristiwa perang yang dilakukan Nabi bukan karena orang-orang kafir meragukan kenabian Muhammad, namun karena mereka menyerang Nabi dan para pengikutnya terlebih dahulu.

Dalam video di atas, ust. Lubis melakukan pendefinisian yang dangkal tentang bolehnya membunuh. Diantara ayat Alquran memang ada yang membolehkan membunuh. Namun siapa yang boleh dibunuh dan apa syarat bolehnya dibunuh, tentu harus didalami konteks ayat-ayat tersebut. Penglihatan sekilas terhadap ayat-ayat itu kemudian menerapkan ayat itu ke Ahmadiah adalah pemahamaan yang serampangan. Itulah literalisme. Literalisme menuntun orang untuk berpikir sempit dengan mengatakan orang yang berbeda dengan dirinya, dalam hal ini Ahmadiah, adalah halal darahnya sebagaimana  dinyatakan dalam al-Qur’an.

Literalisme lain terlihat dalam rekaman pernyataan trio terpidana mati kasus Bom Bali (video 2). Dalam video itu, Imam Samudera (bertopeng sarung) mengatakan, “…yang dikatakan jihad adalah berperang melawan orang kafir yang memerangi Islam…” Sementara Ali Ghufron menyatakan, “…arti jihad adalah perang, nggak ada arti lain…” Secara tegas, Imam Samudera menyitir ayat secara literal, “Diwajibkan  pada kamu untuk berperang walaupun berperang itu sesuatu yang kamu benci…” Literalisme telah membimbing mereka untuk mendefisikan jihad dengan satu kata yakni perang berpijak pada QS. Al-Baqarah: 216. Padahal ayat itu mesti dipahami berdasarkan jiwa syariat, yakni perang itu baru dibolehkan bila untuk mempertahankan diri. Pemahaman literal terhadap ayat tersebut telah mengabaikan fakta penting bahwa perang itu terkait dengan konteks ruang dan waktu. Kapan perang dilakukan dan dimana perang dilakukan menjadi pertanyaan pening yang harus dijawab untuk memastikan bahwa suatu wilayah pada suatu waktu itu sedang berperang atau tidak. Pemahaman literalisme atas ayat-ayat perang menjadikan ada orang yang bermain bola di pematang sawah pada saat orang sibuk bercocok tanam. Ia memiliki mimpi menjadi pemain bola yang handal. Maka ia berlatih bermain bola dimanapun berada dan kapanpun. Apa pandangan orang yang sedang bercocok tanam itu terhadap pemain bola di pematang sawah itu?

Literalisme lain terlihat dalam statemen Ba’asyir tentang Obama adalah musuh Islam (video 3). Dalam rekaman itu, Ba’asyir menyatakan, “Obama adalah musuh Islam yang sedang aktif memerangi Islam. Oleh karena itu, umat Islam haram hukumnya menerima (kedatangan)-nya dan membantunya…” Literalisme telah membimbing Ba’asyir untuk mendefinisikan musuh Islam secara serampangan. Kebetulan kali ini menimpa pada Obama. Padahal Obamalah yang mengijinkan pembangunan masjid di Groundzero Washington DC atas nama konstitusi AS. Saat itu penduduk AS menentang, tapi Obama tetap pada pendiriannya.

Klaim yang gegabah tentang siapa musuh Islam juga dampak dari literalisme. Sebagaimana peperangan, permusuhan juga terkait dengan konteks ruang dan waktu. Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia, tidak sedang bermusuhan dengan negara manapun termasuk Islam. Maka, bila tindakan Obama yang sedang menyerang umat Islam di Aganistan dijadikan alasan untuk memasukkannya sebagai musuh Islam, itu sama dengan mengatakan Islam adalah Afganistan. Ini tentu tidak benar. Islam bukanlah Afganistan bukan pula Indonesia. Islam adalah agama suci yang menyerukan perdamaian dan bukan menyerukan permusuhan. Islam bagaikan oksigen yang diperlukan oleh baik Amerika, Obama, Afganistan, Indonesia, Ust. Ba’asyir, maupun siapapun. Penyerangan-penyerangan itu adalah perebutan dagang minyak bukan permusuhan dengan Islam sebagai agama. Bila Obama musuh Islam, maka orang muslim Amerika yang semakin banyak itu pasti sudah dihabisi oleh Obama.

Literalisme yang lain lagi terletak pada larangan FPI Karanganyar terhadap bendera merah putih (video 4). FPI Karanganyar berpandangan bahwa hormat bendera itu mencederai akidah Islam. Ini disebabkan oleh pandangan literalisme mereka bahwa meyakini Allah  itu harus dimurnikan dari menghormati selain Allah termasuk bendera. Bila pandangan literalisme macam ini dianggap benar, maka ajaran menghormati orang tua, menghormati para pahlawan, menghormati kakak dan paman bisa dianggap bagian dari syirik. Padahal hormat menghormati sangat dianjurkan oleh ajaran Islam baik secara ekplisit maupun implisit. Literalisme yang model ini walaupun tidak secara langsung mengancam kerukunan umat beragama, namun ia bisa mengancam pecahnya keamanan bangsa. Apakah pandangan semacam ini tidak membahayakan kehidupan damai yang diperjuangkan para pendiri bangsa dengan keringat, darah, dan nyawa?

Material keislaman yang penuh kebencian itu akan lebih banyak mempengaruhi pemahaman keislaman generasi muda Indonesia dari pada generas tua. Mengapa? Merekalah yang lebih akrab dengan internet bila dibanding dengan generasi tua. Perpaduan antara keakraban terhadap material keislaman yang penuh kebencian, kondisi jiwa muda yang penuh kelabilan, dan pemahaman keislaman yang masih mencari bentuk dapat menjadi perpaduan yang sangat membahayakan terwujudnya kerukunan umat beragama.

 

Penutup

 

Setelah mencermati pola gerakan Islam ekstrem di Indonesia dan statemen beberapa tokoh yang tersebar di media elektronik youtube, penulis berpandangan bahwa leteralisme memang menjadi sumber ekstremisme. Ia telah menggiring seseorang untuk membangun pemahaman Islam yang membahayakan kerukunan umat beragama. Bila generasi muda Indonesia mengakses material semacam itu, maka ia akan menjadi agen militan yang membahayakan kedamaian bangsa dan keamanan nasional. Siapapun yang mencintai Indonesia sebagai rumah yang nyaman, maka harus menyadari bahaya ini.

Penulis mengusulkan RUU kerukunan umat beragama melarang material seperti tersebut di atas berkembang di area publik, baik dalam bentuk rekaman maupun ceramah umum keagamaan. Alasannya tiada lain adalah tindakan pelarangan itu merupakan upaya perlindungan atas keamanan nasional. Penyebaran material semacam itu dapat dimasukkan dalam tindakan makar terhadap kerukunan umat  beragama. Bila RUU kerukunan umat beragama telah mengatur hal ini, maka penegak hukum dapat melakukan tindakan demi kepentingan masyarakat umum yang lebih luas.

Tindakan pelarangan aksi penyebaran paham kebencian itu, dalam perspektif ilmu ushul fiqh, bisa dibenarkan melalui dua teori, yakni mashlahah mursalah dan sadd az-zari’ah. Atas nama kepentingan umum, maka pelarangan penyebaran Islam yang mengandung paham kebencian bisa dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, atas nama pencegahan terbukanya pintu kekacauan, maka pelarangan itu sangat dibenarkan. Dalam kerangka inilah peran aktif seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat amat diperlukan, sebelum nasi menjadi bubur.[]

 

 

 

 

[1]Abdurrahman Wahid, “Musuh dalam Selimut”, dalam Abdurrahman Wahid (ed.),  Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, (Jakarta: LibForAll Foundation, 2009), 21-22.

[2] Khaled Abou el-Fadhl, Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme, terj. Heru Prasetia (Bandung: Arasy, 2003), 20.

[3] Merlyna Lim, Islamic Radicalism and Anti Americanism in Indonesia: The Role of the Internet (Washington: The East-West Center, 2005), 2.

[4]Muhyar Fanani, Epistemologi Budi sebagai Epistemologi Khas Bangsa Indonesia, laporan penelitian IAIN Walisongo, 2012.

[5]Abu Ishaq asy-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, edisi Abdullah Daraz (Mesir: Dar al-Fikr, t.t.

[6]Abdurrahman Wahid (ed.), Ilusi Negara Islam., 176-7.

[7] Ibid., 97-9.

[8] Ihsan Ali-fauzi, dkk, Pola-pola Konflik Keagamaan di Indonesia 1990-2008 (Laporan penelitian, Jakarta: YWB, MPRK-UGM, dan TAF, 2009), iv.

[9] Khaled Abou el-Fadhl, The Great Theft: Wrestling Islam From the Extremists (San Fransisco, Ca: HarperSanFransisco, 2005), 100-3.

[10] Wawancara dengan KH. Musthofa Bisri, 20 September 2012 di Rembang.

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*