Breaking News
Home / Kolom Dosen / DAKWAH BIJAK PARA WALI

DAKWAH BIJAK PARA WALI

 

Abu Rokhmad

 

Pada 17 sampai 22 Pebruari 2014, akan digelar festival budaya bertajuk Mahrajan Wali Jawi bertempat di Demak. Festival yang diinisiasi oleh kiai dan sekaligus budayawan KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) ini, akan dihadiri banyak seniman-ilmuwan dan diisi beragam kegiatan, seperti perlombaan, pameran buku, halaqah, kirab budaya, dan istighasah. Wayangan dengan dalang Ki Enthus Susmono akan memuncaki acara tersebut.

Tema yang diangkat dalam festival itu adalah Menapak Jejak Aulia Meneladani Kearifan Mengajak. Tema ini menarik dan inspiratif di tengah kehidupan beragama di masyarakat yang sarat kekerasan dan intoleransi. Lebih-lebih di saat Indonesia kini dirubung Islam transnasional yang membawa pikiran, gerakan dan ekspresi keislaman khas Arab Saudi yang radikal, memusuhi tradisi dan pluralitas.

Pesan kunci yang disampaikan dalam acara ini adalah ajakan menengok kembali sejarah dakwah kehidupan para wali yang sukses menyebarkan Islam di Jawa. Untuk mengislam pulau Jawa, mereka tidak memilih jalan perang. Mereka berlaku santun, bahkan terhadap kelompok yang jelas berbeda. Kosa kata kafir atau bid’ah, nyaris tak pernah terucap karena baktinya pada keragaman.

Pendek kata, para wali mengajarkan betapa Islam dipeluk oleh penduduk negeri tanpa paksaan, bersanding harmonis dengan tradisi, toleran terhadap perbedaan dan damai dalam berdakwah. Spirit ini mulai hilang dan wacana publik disesaki model Islam garis keras yang hanya paham satu cara, yaitu kekerasan.

 

Menyadari Lokalitas

Pada abad VII M, Islam hadir di Nusantara. Pulaunya ribuan dan masyarakatnya majemuk. Beragam etnis dan keyakinan ada di sini. Islam datang pada masyarakat yang sudah memiliki nilai, budaya dan agama yang sudah lama dianut. Kontak Islam dengan budaya setempat ini, melahirkan Islam baru yang khas Indonesia, yaitu Islam sebagaimana yang dipraktekkan masyarakat setempat.

Walisongo menjadi mediantor Islam yang khas itu. Mereka menjembatani pertemuan antara agama dan tradisi. Bahkan, para wali mau ‘mengorbankan’ egoisme doktrin Islam, hanya untuk menghormati keyakinan setempat. Daging sapi yang halal menurut Islam, oleh Sunan Kudus dilarang disembelih semata-mata untuk menghargai keyakinan agama masyarakat setempat.

Model penyebaran Islam ala Walisongo sangat lentur dan akomodatif, tetapi tidak mengorbankan akidah. Cara ini membuat masyarakat tidak resisten menerima Islam. Yang tetap setia dengan agama lamanya, sama nyamannya dengan mereka mau pindah agama. Penduduk yang memeluk Islam tetapi tidak mau tradisinya dihilangkan, para wali memberikan jalan keluar. Tidak ada kata bid’ah untuk menerima tradisi yang baik.

Para wali sangat menghargai perbedaan agama dan keyakinan. Cara-cara kekerasan dihindari meskipun legitimasi teologis tinggal pilih ayat dan hadits. ’Kejahiliyahan dan kekafiran’ masyarakat tidak dihadapi para wali dengan tangan terkepal apalagi pedang terhunus. Mereka tetap santun dan tidak kehilangan akal sehat meski maksiat hadir di depan mata. Islam sebagai rahmatan lil ’alamin selalu menjadi acuan. Pola pikir dan sikap keberagamaan mereka berada di jalan tengah (moderat).

Sikap moderat dapat terbentuk karena Muslim nusantara tidak memiliki pengalaman traumatik berbenturan dengan agama lain. Toleran dan hidup damai dengan semua kepercayaan menjadi pilihan. Sulit membayangkan bagaimana wajah umat Islam  Nusantara sekarang, jika penyebaran Islam masa lalu dilakukan secara ofensif.

 

Dakwah Bijak

Para wali pasti menyadari, dakwah yang lentur dan akomodatif terhadap budaya setempat sangat beresiko. Salah satunya adalah akan terjadi percampuran antara Islam dan tradisi. Banyak ditemukan muatan lokal dalam praktek keislaman nyaris tidak bisa dibedakan. Karena hal ini, para wali dicap sebagai penyebar Islam sinkretis, Islam yang tidak murni atau Islam abangan. Padahal dalam proses penyebaran Islam, selalu muncul dua isu yaitu islamisasi Jawa dan jawanisasi Islam. Pada hakekatnya, proses ini mirip dengan wacana islamisasi Arab atau arabisasi Islam.

Olok-olok ini terus dipelihara dan menutupi jasa para wali yang telah meretas jalan tersebarnya Islam di Nusantara. Sejatinya para wali adalah pengikut Islam yang otentik. Mereka tidak pernah menggadaikan  akidah Islam hanya untuk menyenangkan pemeluk agama lain. Mereka menggunakan cara berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Di tengah kepungan tradisi Jawa, saya meyakini bahwa Islam masih tegak sebagai agama yang pristin (meminjam Ulil Abshar) meski unsur-unsur lokal tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Sebab, begitu Islam diterima oleh seseorang maka ia akan ‘menyentuhnya’ dan memaknainya sesuai dengan ia pahami. Disitulah Islam bersinggungan dengan lokalitas.

Melalui festival ini, masyarakat diajak untuk memahami bagaimana para wali berdakwah. Islam mengajarkan umatnya untuk mengajak kepada kabaikan dengan cara yang baik, bukan paksaan apalagi kekerasan. Begitu pula melarang kemungkaran, harus dengan cara yang baik pula. Para wali meletakkan akhlak di atas segalanya.

 

 Abu Rokhmad, Relawan Mahrajan Wali Jawi, Dosen IAIN Walisongo Semarang

About Admin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*