Breaking News
Home / Kolom Dosen / ETIKA KEBEBASAN INTELEKTUAL

ETIKA KEBEBASAN INTELEKTUAL

Oleh Abu Rokhmad*

Kehadiran Irshad Manji ke Indonesia awal Mei ini, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kalangan pegiat liberalisme menyambut baik pikiran Manji, baik yang terdapat dalam The Trouble with Islam Today maupun buku terbarunya Allah, Liberty & Love. Buku pertama berisi kritik Manji terhadap umat Islam agar mereka melakukan ijtihad untuk menjawab tantangan zaman. Buku keduanya memuat gagasan Manji untuk melegalkan praktik lesbianisme atau homoseksualitas. Gagasan inilah yang memantik reaksi negatif di masyarakat.

Bedah buku terbarunya di Salihara Jakarta dibubarkan paksa oleh Front Pembela Islam. Diskusi yang akan diadakan di UGM Yogyakarta tidak jadi berlangsung karena rektorat tidak mengizinkan acara tersebut. Sekalipun demikian, tidak semua acara yang dihadiri Manji batal digelar. Di STAIN Salatiga, Manji dapat berdiskusi secara terbatas dengan suasana aman dan nyaman.

Kasus yang menimpa Manji hendaknya dibaca dari perspektif yang utuh. Pembubaran diskusi dapat dilihat sebagai pelanggaran kebebasan akademik. Di sisi lain, kebebasan berpendapat mesti dibarengi dengan etika dan tanggung jawab.

Kebebasan yang Etis

Tidak banyak orang kenal dengan Manji. Kedatangannya yang pertama ke Indonesia tidak menimbulkan kegaduhan karena gagasan dalam buku pertamanya The Trouble with Islam Today sudah biasa terdengar. Tapi kedatangan keduanya memantik emosi karena ia tidak sekedar jualan pikiran, tapi juga perilaku dan budaya lewat bukunya Allah, Liberty & Love.

Profil dan pemikiran Manji dianggap berbahaya bagi sebagian masyarakat. Konon, ia seorang muslimah yang taat namun orientasi seksualnya tidak wajar. ”Islam agama saya, lesbian itu kebahagiaan saya,” begitu kata Manji. Ia seorang lesbian dan memperjuangkan hak-hak kaumnya. Salah satu agendanya adalah mendorong agar negara menjamin dan mengesahkan perkawinan sejenis.

Gagasan Manji dianggap menodai Islam. Lesbianisme yang dilarang agama Islam, justru dipraktikkan oleh Manji dan dikampanyekan secara terbuka di tempat yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Homoseksualitas dan lesbianisme sebagai gaya hidup belum bisa diterima di negeri ini.

Jika ia dicap melawan agamanya sendiri, dengan berlindung di balik kebebasan intelektualnya, tampaknya bisa diterima akal. Ia telah menuhankan kebebasan. Padahal Tuhan sendiri berkehendak mengatur kebebasan manusia agar sejalan dengan ajaran agama dan tidak melawan Tuhannya.

Agama pada dasarnya adalah kontrol dan aturan bagi kebebasan manusia. Agama berisi etika dan moral yang menjunjung martabat manusia lebih tinggi di banding makhluk Tuhan lainnya. Manusia yang tanpa kontrol, aturan dan moral kedudukannya mirip dengan hewan. Hewan tak mengenal hukum perkawinan karena itu ia bebas mempraktikkan heteroseksual atau homoseksual. Sedangkan perkawinan manusia mengenal tata cara yang harus ditaati, baik yang bersumber dari norma sosial, hukum maupun agama.

Kebebasan ilmiah bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Setiap kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Pendapat Manji dibatasi oleh perasaan orang lain yang merasa terganggu dengan pikirannya. Setiap orang berhak untuk berteriak-teriak karena itu hak asasinya, tetapi jika orang lain merasa terganggu maka yang berteriak harus sadar bahwa perilakunya tidak etis.

Jadi, apakah salah bila orang merasa agamanya telah dilecehkan oleh Manji dengan pendapatnya? Sama sekali tidak salah. Jika Manji bebas berpendapat, maka orang lain juga bebas menolak karena penolakan adalah hak asasinya juga. Oleh karena itu, Manji beserta pendukungnya harus menghormati penolakan tersebut.

 

Tanggung Jawab Sosial

Apakah penolakan itu merupakan upaya memberangus kerja-kerja intelektual? Belum tentu. Manji boleh ngomong bebas di tempat di mana audien sangat memuji pikiran. Di dalam buku dan media di manapun, asal masyarakat sekitar setuju dengan pikirannya, Manji bebas mengemukakan pendapatnya.

Sedangkan ketika ia ditolak berbicara, ia pun harus paham jalan pikiran  penolakan tersebut. Bahkan jika ia harus ditolak secara paksa sekalipun, Manji harus menghormatinya. Hal ini bagian dari negosiasi kepentingan. Di sanalah batas kebebasan harus diindahkan. Inilah wilayah etika di mana semua ilmuwan harus sadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab sosial untuk menjaga harmonisasi di masyarakat tanpa kehilangan nalar kritisnya.

Ilmuwan bukanlah nabi yang terbebas dari kesalahan (ma’shum). Ia tetaplah manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Dalam satu hal, pandangan mereka mungkin sangat presisi, namun dalam kasus lain bisa jadi terdapat kesalahan. Apalagi ilmu sosial, di mana kebenaran sangat relatif sifatnya. Oleh karena itu, setiap ilmuwan hendaknya bersikap rendah hati dan tidak merasa paling benar sendiri.

Pada sisi lain, seorang ilmuwan ketika melemparkan gagasan ke publik harus disertai dengan tanggung jawab. Sebab ilmuwan bekerja tidak semata-mata untuk ilmu (science for science), tetapi juga untuk kebahagian masyarakat (science for human being). Ilmuwan harus hati-hati berbahasa dan memilih media yang tepat untuk menyampaikan gagasannya. Jika hal itu sudah dilakukan, maka ia setidaknya sudah mengembangkan kebebasan akademik secara bertanggung jawab.

Pemikiran Irshad Manji sangat dipengaruhi oleh budaya di sekitarnya. Ia berpikir demikian bukan tanpa alasan dan kepentingan. Manji sejatinya sedang berdagang dengan gagasan, perilaku dan kulturnya untuk dibeli orang Indonesia. Penjual boleh yakin bahwa dagangannya berkualitas nomer satu, tapi ia tidak boleh menghina dagangan orang lain. Berdagang dengan menjelekkan komoditas milik orang lain berarti melanggar etik, sopan santun dan juga hukum.

Kebebasan berpendapat Manji menuai kritik dan penolakan karena ia abai dengan filosofi di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kebebasan itu harus dimaknai bukan kebebasan tanpa batas yang boleh melanggar nilai hukum, sosial dan agama. Manji adalah lembar pelajaran penting bahwa kebebasan intelektual pada dasarnya tidak boleh berlangsung secara anarkis, dan harus menjunjung tinggi hukum dan etika.

 

Abu Rokhmad, Dosen IAIN Walisongo Semarang

HP:

085.640.10.1973

About Admin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*