Breaking News
Home / Kolom Dosen / EMPATI DAN BAHAYA LGBT-ISME

EMPATI DAN BAHAYA LGBT-ISME

Oleh Abu Rokhmad

Perjuangan penderita, pengikut dan penyokong LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transjender) terus berlanjut. Jika sebelumnya, arah gerakan mereka hanya untuk dipahami orang lain, kini mereka menuntut eksistensi dan pengakuan. Mereka berbeda karena takdir Tuhan, begitulah kilah awalnya. Tahap berikutnya ingin diakui dan dipenuhi hak-haknya. Mereka menuntut agar negara mengakui hak asasinya, termasuk mengakui pernikahan sejenis.

Kaum LGBT sudah melewati fase sembunyi-sembunyi (sirran). Kini mereka berani keluar dan mengampanyekan diri di ranah publik. Mereka tidak lagi sungkan sebagai LGBT, bahkan terang-terangan (fase jahran) ingin mengajak yang normal untuk seperti mereka. Kedepan dan itu tidak lama, mereka akan menjadikan LGBT sebagai gaya hidup dan diperlakukan sebagaimana agama.

Inilah tahapan yang sangat berbahaya karena LGBT telah dijadikan isme dan bukan sebagai penyakit yang harus disembuhkan. Kini mereka makin besar, terorganisir secara apik di seluruh nusantara dan memiliki pengurus dan simpatisan yang cukup banyak.  Negeri ini bisa saja berubah menjadi negeri LGBT jika kekuatan mereka bersatu padu dan masyarakat permisif atau tidak mempedulikannya.

 

Empati Tak Terpahami

Sesungguhnya, masyarakat mulai mengerti dan memahami bahwa penghuni dunia ini tidak hanya manusia berkelamin laki-laki dan perempuan. Ada juga manusia berjenis kelamin ketiga (the third gender), seperti LGBT itu. Ada seseorang yang sejak lahir tampak gagah sebagai laki-laki, namun secara psikis bersikap lembut dan mendefinisikan dirinya sebagai perempuan.

Adapula yang fisik dan alat kelengkapan hidupnya tampak pria, namun cara berjalan, berbicara, berdandan bahkan keseluruhan perilakunya layaknya kaum hawa. Sebaliknya, ada juga seseorang yang dilahirkan sebagai perempuan, tetapi orientasi seksual dan identitas sosial yang diinginkan adalah laki-laki.

Orientasi dan perilaku seksual yang dimiliki—terutama—LGB, umumnya menyimpang. Nikah sejenis menjadi jalan dan gaya hidup. Hubungan seksual serba bisa, baik dengan lawan jenis maupun sejenis, juga merupakan laku seksual menyimpang yang tidak sehat dan melanggar norma sosial dan agama.

Kita mengerti bahwa mereka manusia ciptaan Tuhan. Tidak layak mereka dinistakan. Hanya saja, ada ketidaksepahaman antara kaum LGBT dan masyarakat umum tentang apa yang mereka alami. Komunitas medis (perhatikan pernyataan seksi religi, spiritualitas dan psikiatri PDSKJI) menyatakan bahwa gay, lesbian atau biseksual adalah  suatu gangguan atau penyakit yang bisa disembuhkan. Agamawan dan kaum awam mengamini pandangan di atas. Mereka ini layak dibantu dan dibimbung untuk keluar dari penyakit yang dideritanya.

Sayangnya, kaum LGBT tidak mengakuinya sebagai penyakit atau gangguan psikologis. Yang menjadi lesbian dan gay sejak lahir saja menolak dinyatakan menderita suatu penyakit, apalagi yang berubah orientasi dan perilaku seksualnya karena faktor lingkungan. Penolakan mereka membuat empati dan kepedulian banyak pihak untuk mengembalikan mereka pada jalan yang normal makin sulit.

Dukungan cendekiawan seperti Musdah Mulia dan Ulil Abshar Abdalla, lebih-lebih dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, makin membuat kaum LGBT bangga dan merasa benar dengan jalan pikirannya. Seolah-olah Tuhan mengangkat mereka sebagai rasul LGBT yang tugasnya menyebarluaskan ajaran LGBT kepada semua orang. Padahal Tuhan menciptakan mereka dengan satu ujian kelainan yang harus disembuhkan.

Hak-hak kaum LGBT memang harus diberikan, tapi penyimpangan seksual mereka harus diobati dan tidak boleh ditularkan kepada yang lain. Penyimpangan perilaku seksual jangan malah ditoleransi. Oleh karenanya, sangat tidak bijak menggunakan ayat suci untuk mengabsahkan kekeliruan yang diikuti dan diyakini oleh kaum LGBT.

 

LGBT-isme

LGBT sebagai fakta sosial semata, tidaklah terlalu mengkhawatirkan meski pelakunya patut dibimbing ke jalan yang semestinya. LGBT sebagai paham yang diperjuangan dan didukung oleh lembaga nasional dan internasional, termasuk kelompok agamawan, patut diwaspadai. Sesuatu yang sudah menjadi isme, akan membatu sebagai ideologi yang dianggap benar. Bisa jadi, mereka akan menggunakan cara-cara radikal untuk membenarkan perilaku dan keyakinannya.

Asumsi ini tidaklah salah sebab kaum LGBT memiliki kecenderungan ’melakukan segala cara’ untuk mempertahankan keinginannya. Banyak kasus menyebutkan, mereka tidak segan ’menghabisi’ pasangannya jika merasa dikhianati. Kebutuhan terhadap pasangan ini sangat prioritas bagi kehidupan mereka. Celakanya, pasangan itu (jika normal) akhirnya memiliki penyakit yang sama dengan mereka.

Orientasi dan perilaku seksual mereka itu ’virus’ dan pasti berpeluang menyebar ke mana-mana. Sementara seks yang tidak sehat sudah terbukti menimbulkan berbagai penyakit yang mematikan. Ini bukan omong kosong karena para ahli kesehatan sudah menyatakan demikian. Gerakan terakhir LGBT yang makin berani dan terang-terangan di ranah, telah mengarah pada LGBT-isme. Indikasinya, mereka menganggap benar apa yang dilakukan. Mereka menutup telinga berbagai masukan dan pendapat dari para ahli yang obyektif.

Kaum LBT memang sudah sangat menderita. Mereka bergelut dengan soal identitas (jender dan sosial). Mereka juga harus menghadapi tekanan sosial (social pressure) yang sangat kuat. Mereka juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan biologis. Belum lagi mereka harus menghadapi protes keluarga yang tidak mau menerimanya. Akhirnya, mereka lari dari rumah dan memilih hidup mengembara, untuk mendapatkan rasa aman dan pengakuan atas identitasnya. Mereka berpotensi dicemooh, dikucilkan dan dipinggirkan

Di berbagai kota, mulai lahir paguyuban atau komunitas yang intinya ingin merangkul dan melindungi mereka dari ketertindasan. Pada kelompok tersebut, identitas sosial transgender tak dipertanyakan lagi. Tetapi menolong dan membantu mereka dengan cara mengabsahkan dan membenarkan penyimpangan seksual mereka, sangatlah konyol. Apalagi menggunakan dalil-dalil agama. Kalau toh itu dianggap bantuan dan pembelaan, maka bantuannya bersifat semu karena hakekatnya malah menjerumuskan mereka ke jurang yang lebih dalam. Mereka akan hidup di dunia yang norma-normanya dibuat sendiri. Seluruh norma diingkari, baik norma sosial, hukum maupun norma agama.

Mestinya, publik satu kata akan bahaya LGBT-isme dan membantunya keluar dari dunia mereka. Persoalannya sekarang adalah siapa yang mau peduli dengan mereka. Kalau mereka dianggap sakit karena bertindak menyimpang dari norma sosial dan agama, apa yang harus kita dan mereka lakukan. Kepedulian dan tanggung jawab sosial harus dikedepankan untuk membantu mereka keluar dari dilema, baik yang muncul dari dalam diri mereka maupun dari masyarakat.

Eksklusivitas yang mereka bangun bersama komunitasnya, lebih disebabkan karena mereka tidak diterima dan dimusuhi oleh keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus merangkul mereka bukan untuk mengabsahkan penyimpangan yang mereka lakukan tapi untuk mengajak mereka hidup sebagaimana orang kebanyakan. Batin mereka pasti gelisah karena menjalani hidup tidak normal. Sejatinya mereka sedang menunggu sosok dan pihak yang dapat membantu mereka keluar dari permasalahan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About Admin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*