Breaking News
Home / Umum / MAL PRAKTIK ISLAM (7) Oleh: Muhyar Fanani

MAL PRAKTIK ISLAM (7) Oleh: Muhyar Fanani

Adanya beberapa Warga Negara Indonesia (WNI) yang tertarik bergabung ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sungguh memprihatinkan. Secara ideologi, tindakan itu sulit dibenarkan mengingat ideologi teror bukanlah ideologi yang disinari inti Islam. Secara politik, upaya itu tidaklah menguntungkan. Mereka dapat dicabut kewarganegaraannya sementara ISIS belum tentu mampu memberikan kewarganegaraan baru. Motif ekonomi yang bisa jadi menjadi pendorong juga sulit dipahami. Untuk apa mendapatkan gaji besar jika nyawa hilang? Mungkin rasa frustasi dan jalan pintas mendapat surga adalah alasannya. Bila dua alasan itu dipakai, sungguh sebuah tindakan yang pantas dikasihani. Mengapa? Orang yang frustasi berarti sedang tidak mampu berpikir normal. Demikian pula yang suka jalan pintas. Orang yang suka menempuh jalan pintas biasanya adalah orang yang tidak bisa menggunakan jalan yang normal. Pendek kata, tindakan bergabung pada ISIS dan gerakan teror lainnya merupakan tindakan yang abnormal.

 

Reorientasi

Untuk mencegah lebih banyak lagi WNI yang tertarik pada ISIS dan ideologi abnormal lainnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia perlu melakukan tiga hal. Pertama, reorientasi pendidikan agama dari kulit ke isi agama; dari kuantitas ke kualitas; dari literal ke kontekstual; dari sekedar casing (hardware) ke program (software). Kesimpulan Khaled Abou el-Fadhl dalam Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists (2005) amat mencengangkan. Menurutnya, munculnya generasi teror merupakan dampak dari ketidakmampuan institusi pendidikan Islam di seluruh dunia dalam menjaga standar alumninya. Mestinya institusi pendidikan Islam tak ubahnya institusi pendidikan kedokteran. Bila institusi pendidikan kedokteran mampu menciptakan sitem agar setiap alumni memiliki kompetensi hingga tidak melahirkan dokter yang mal praktik, institusi pendidikan Islam belumlah demikian. Institusi pendidikan Islam di seluruh dunia masih sering  melahirkan alumni yang bermal praktik Islam. Mengapa? Mereka meramu dalil-dalil agama dengan cara yang tidak semestinya. Dalam Alquran memang dijumpai ayat perintah perang. Namun kapan ayat itu boleh digunakan? Ini membutuhkan keahlian yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mengikuti 2 minggu pondok Romadon atau kuliah subuh di TV, apalagi membaca selebaran di pintu masjid sehabis jumatan.

Meramu dalil sesungguhnya sama dengan meramu sebuah menu masakan. Seorang juru masak yang handal belum tentu mampu menciptakan resep sendiri. Katakanlah menu Garangasem yang populer di Kudus. Apakah juru masaknya sekaligus pencipta resep? Tidak. Untuk menciptakan resep Garangasem itu membutuhkan waktu ratusan tahun. Saya pernah mengajak tamu luar negeri menyantap menu ini. Tamu itu bertanya banyak hal. Siapa yang menciptakan menu ini? Mengapa bumbunya begitu pedas? Mengapa yang dipakai membungkus daun pisang? Mengapa bukan daun jati? Pertanyaan yang sulit saya jawab. Akhirnya saya katakan padanya, “Mari kita makan saja sambil berterima kasih pada pencipta resep ini, siapapun dia. Banyak orang yang telah menikmati hasil ramuannya. Pastilah dia orang yang baik.” Untuk meracik dalil-dalil agama agar enak disantap membutuhkan waktu ratusan tahun pula. Maka umat Islam berhutang budi pada Imam Syafi’i (767-820M), Imam Syathibi (w.1388), dan tokoh-tokoh besar lainnya. Tanpa belajar dari resep mereka, Anda akan jatuh pada mal praktik meracik dalil. Padahal mal praktik ini lebih berbahaya dari mal praktik kedokteran. Mal praktik meracik dalil akan membawa kesengsaraan dunia akhirat. Sementara mal praktik kedokteran hanya berisiko kematian. Di era yang serba terbuka seperti sekarang mengenali mana praktik Islam yang benar dan mana yang mal praktik menjadi penting. Promosi Islam yang lebih mengacu pada praktik Islam yang didukung oleh resep-resep yang benar yang telah teruji sepanjang sejarah perlu ditingkatkan.

 

Revitalisasi

Selain reorientasi pendidikan Islam langkah kedua tak kalah penting, yakni revitalisasi promosi Islam rahmatan lil alamin. Langkah ini bisa dilakukan melalui kampanye, publikasi, forum kajian, pendidikan, dan aksi nyata. Gerakan Islam di seluruh dunia yang berideologi mirip ISIS memiliki sumber dana yang besar yang rata-rata berasal dari minyak. Menurut informasi, ISIS memberikan gaji besar pula kepada para prajuritnya. Dari mana dananya? Dari ladang-ladang minyak yang dikuasainya. Dana yang besar ini berdampak pada representasi semu atas muslim dunia. Jumlah pemeluk ideologi ini hanya sekitar 2 persen saja dari pemeluk Islam di seluruh dunia. Mengapa mereka seakan-akan berjumlah besar dan merepresentasikan muslim seluruh dunia? Karena mereka berteriak lebih lantang dari 98 persen muslim lain yang mayoritas moderat dan diam. Apalagi mereka berteriak tidak hanya dengan suara dan tulisan tapi juga dengan senjata.

Untuk mencegah misrepresentasi ini, mayoritas muslim moderat tidak boleh lagi diam. Mereka harus mengimbangi promosi atas Islam yang diyakininya. Model promosi yang mudah ditangkap masyarakat luas harus dilakukan. Salah satu sebab bergabungnya masyarakat pada ideologi keras ini adalah simpelnya ajaran. Bagaimana ramuan Islam moderat itu bisa dipahami secara simpel oleh masyarakat yang semakin pragmatis? Inilah yang perlu dilakukan.

Disamping itu, promosi Islam moderat dengan aksi nyata dan mudah dirasakan masyarakat juga penting. Sebagian masyarakat kita kini sudah mulai tidak silau dengan kulit. Walaupun namanya Ahmad bin Mahmud tapi kalau korupsi pastilah tercemar. Sebaliknya, walau namanya Konyil bin Konyol tapi amanah pastilah dipuja. Ingat, sebab lain dari bergabungnya warga pada ideologi teror adalah rasa marah atas banyaknya elit yang berperilaku nista. Mereka pandang ini akibat dari ideologi Pancasila. Padahal perilaku macam itu justru disebabkan tidak menjalankan Pancasila.

 

Realisasi

Langkah ketiga yang juga mendesak adalah realisasi keadilan sosial (social justice). Tindakan Jake Bilardi, pemuda Melbourne yang mengendarai van putih untuk meledakkan dirinya di Iraq pantas menjadi renungan kita. Pemuda ini bergabung ISIS karena beranggapan adanya ketidakadilan global yang saat ini terjadi. Cara berpikir Bilardi ini bisa menjangkiti pemuda-pemuda Indonesia yang juga melihat ketidakadilan di Indonesia baik dalam hukum, politik, sosial, maupun ekonomi. Darah mudanya bisa terusik. Bila perlawananya disalurkan pada hal positif untuk membangun negeri, itu bagus. Namun bila protesnya dilakukan dengan caranya sendiri, inilah sasaran empuk agen-agen ideologi teror. Apalagi rayuan ideologi macam ini bisa masuk ke kamar-kamar dan kasur anak-anak Indonesia tanpa bisa dikontrol. Mengapa? Karena rayuan itu dilakukan melalui web dan HP mereka.

Agar tidak ada yang mengikuti jejak Bilardi, Indonesia sudah semestinya melihat kembali sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mewujudkan sila kelima dalam waktu yang secepat-cepatnya adalah sebuah kewajiban yang tak bisa ditunda. Kesenjangan sosial akan memicu frustasi. Rasa frustasi memantik tindakan teror.

Wahai saudaraku, sudahlah! Ideologi mutlak-mutlakkan tak akan membawa dunia ini lebih baik. Kemutlakan memang tempatnya bukan di dunia. Hanya Allahlah yang Maha Mutlak! Tugas kita bukan lagi meracik atau menggugat ideologi, melainkan menyempurnakan praktik ideologi Pancasila. Ibarat menu masakan, Pancasila sudah cukup lezat. Bila kurang sedap, kesalahan bukan pada resep, melainkan pada yang masak. Bagaimana menurut Anda?

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*