Breaking News
Home / Umum / KITA BUKAN BANGSA AYAM SAYUR (5) Oleh: Muhyar Fanani

KITA BUKAN BANGSA AYAM SAYUR (5) Oleh: Muhyar Fanani

Suatu saat nanti Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani. Kualitas bangsa diakui. Anak-anak negeri tak lagi menjadi kuli. Mereka cerdik berinovasi dan aktif menghasilkan sesuatu yang bergengsi. Seluruh warga hidup tenang dan nyaman. Yang kuat melindungi yang lemah. Yang miskin tak terhinakan. Kekayaan darat, laut, dan udara benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Negara menguasai sektor-sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak. Negara juga menjadi tumpuan bagi fakir-miskin, anak-anak terlantar, dan orang-orang jompo. Semua itu bisa terjadi karena negara menjalankan peran dan fungsinya sebagaimana mestinya.

Ketika warga pergi ke luar negeri tak ada lagi perasaan minder. Tak ada lagi sebutan Indon di Malaysia. Seluruh penduduk planet bumi mengenal bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah dan pekerja keras. Seluruh warga mewarisi semangat juang nenek moyang yang dipupuk dari generasi ke generasi. Negeri yang pernah merana akibat belenggu penjajahan dan dominasi neo-kolonialisme IMF, Bank Dunia, dan WTO kini telah kembali bangkit. Hutang-hutang akibat ulah para pemimpin masa lalu yang berjiwa kerdil dan tak bertanggung jawab telah dilunasi.

Bagaimana itu semua bisa terjadi? Bagaimana cerita pilu itu bisa berlalu?

 

Watak bangsa

Setelah tersungkur karena membebek kekuatan asing, para pemimpin Indonesia akhirnya sadar-diri dan bertobat. Mereka menyadari bahwa untuk bangkit dari keterpurukan dibutuhkan watak tangguh yang digali dari nilai-nilai filosofis bangsa. Mereka pun mengumpulkan para ahli untuk menggali nilai filosofis yang bisa membangkitkan negeri. Para ahli melakukan kajian mendalam dan akhirnya menemukan bahwa untuk bangkit, bangsa Indonesia harus memiliki lima watak. Kelima watak itu adalah: Pertama, cinta ilmu pengetahuan. Sikap cinta pengetahuan ini telah melahirkan kebijakan yang benar-benar memihak pada dunia pendidikan.

Pendidikan terbukti telah menyelamatkan sebuah bangsa. Rujukan para pemimpin Indonesia adalah Jepang. Setelah kalah perang, akhirnya Jepang mampu bangkit dari keterpurukan setelah menempatkan pendidikan dalam posisi penting sejak zaman Restorasi Meiji. Restorasi telah mengubah sistem pendidikan dari tradisional menjadi modern. Melalui restorasi Jepang menerapkan program wajib belajar, pengiriman mahasiswa Jepang ke luar negeri (Perancis dan Jerman) untuk belajar, dan peningkatan anggaran drastis pendidikan. Kaisar Meiji secara berani melakukan gebrakan yang visioner untuk menyelamatkan masa depan Jepang. Salah satu prinsip populer pada masa itu adalah prinsip Kaizen. Kaizen berarti kemajuan yang berkelanjutan (continuous improvement) atau peningkatan keahlian. Prinsip ini telah menjadi inspirasi generasi Jepang pasca pemboman Hiroshima untuk belajar tanpa henti dan mengembangkan inovasi. Hasilnya, Jepang menjadi bangsa yang disegani dalam percaturan bangsa-bangsa dunia.

Suatu saat nanti pertobatan para pemimpin Indonesia membuahkan hasil. Tak ada lagi  orang Indonesia yang malas belajar. Semua orang sibuk dengan belajar. Setiap anak negeri sibuk berinovasi.

Kedua, rajin bekerja. Pepatah mengajarkan kepada anak-anak Indonesia untuk “sedikit berkata banyak kerja”. Pemimpin Indonesia memasyarakatkan lagi pepatah ini dan menjadi watak bangsa. Pengalaman panjang sebagai bangsa sejak Boedi Oetomo hingga sekarang telah mengajarkan untuk menghayati karakter bangsa sendiri. Lebih baik mengerjakan sesuatu secara tuntas walaupun sedikit daripada pidato yang muluk-muluk tapi tak pernah dilaksanakan. Bukti-bukti kejayaan negeri pada masa lalu merupakan buah dari falsafah ini. Borobudur merupakan karya nyata bangsa yang sedikit busa banyak kerja. Begitu kuatnya kesadaran bangsa pada pepatah ini telah mengakibatkan tersingkirnya para politisi yang banyak kata namun minus kerja. Rakyat lebih senang memilih pemimpin yang banyak kerja dari pada politisi yang banyak bicara sedikit kerja.

Ketiga, hemat. Krisis energi fosil dan krisis pangan yang mendera bangsa telah menyadarkan seluruh warga untuk hidup hemat. Hidup hemat adalah watak asli bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam pepatah “hemat pangkal kaya”. Meluasnya pepatah ini tak lepas dari jasa kaum Ibu yang sengsara akibat krisis berkepanjangan di negeri ini. Uang belanja yang terbatas dan kenaikan harga yang tanpa batas telah mendidik kaum ibu untuk menjalankan prinsip hidup hemat. Tak hanya mempraktekkan kehematan dalam sirkulasi keuangan belanja keluarga, ibu-ibu itu juga menanamkan kepada anak-anaknya. Mereka sering menceritakan masa lalu Indonesia yang pernah menjadi negeri boros namun akhirnya mrongos. Padahal kekayaan alam melimpah.

Keempat, mandiri (self-help). Pada masa lalu, negeri ini pernah terkapar akibat dilumat globalisasi. Datanglah sang dewa penolong yang bernama IMF. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Indonesia menjadi murid paling penurut kepada IMF. Padahal reputasi IMF adalah dokter yang sering salah dalam membuat resep bagi para pasiennya. Argentina, Meksiko, dan Malaysia adalah negeri yang pernah di-jelomprong-kan IMF. Mereka akhirnya sadar diri dan berani berkata tidak kepada IMF. Ketiga negara itu pun bangkit dari keterpurukannya justru karena berani melawan IMF. Indonesia yang taat justru terbenam semakin dalam.

Pengalaman kesejarahan inilah yang kemudian membuat bangsa Indonesia sadar diri bahwa kejayaan sebuah negeri hanya akan dicapai dengan berdiri di kaki sendiri. Bangsa Indonesia kembali membenarkan falsafah hidup yang pernah dipraktekkan oleh Soekarno, Mahatma Gandi, dan Sun Yat Sen. Berdiri di kaki sendiri dijadikan kembali sebagai watak bangsa Indonesia yang tidak lagi mau menjadi babu dan kuli bangsa asing.

Kelima, kerja sama. Watak lain bangsa Indonesia yang mengantarkan kejayaan adalah suka bekerja sama. Ini adalah watak dasar yang telah muncul ratusan tahun silam. Semangat bergotong royong dalam bentuk koperasi berkembang pesat di seluruh negeri. Akibatnya negeri yang pernah lesu dihantam badai krisis kemudian bangkit secara ajaib. Kemajuan ekonomi berkat koperasi menjadi pilar bangkitnya ekonomi rakyat yang mampu mempecundangi kekuatan asing. Gabungan antara kecintaan tanah air dan kerja sama antar warga telah menjadi kekuatan yang dahsyat dalam menyulap negeri yang pernah merana menjadi negeri impian.

Kelima watak itu tak hanya dihafal, tapi dijalankan oleh seluruh warga dalam semua aspek kehidupan. Memang, tidak semudah membalik tangan, namun akumulasi dari kelimanya mampu mendorong bangsa ini ke arah yang lebih baik.

 

Sadar-diri

Untuk menutup tulisan ini, ijinkan saya menceritakan ulang dongeng Koh Young Hun, Profesor Melayu-Indonesia, Hankuk University, Seoul Korea, tentang seekor anak burung garuda yang ditangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Anak garuda itu hanya bermain-main dengan ayam di halaman rumah sang pemburu. Tak ada tanda-tanda keperkasaan. Pada suatu hari, lewatlah seorang ahli unggas. Ia terkejut seraya berkata, “Sungguh mengherankan burung garuda itu!” “Itu bukan burung garuda”, jawab sang pemburu. Nenek moyangnya mungkin garuda, tapi kini tak lebih dari seekor ayam sayur!” tambahnya. “Tidak! Menurutku dia garuda, dan memang garuda!”, bantah si ahli unggas. Lalu ia tangkap garuda itu dan diapungkannya ke udara. Garuda mengepakkan sayap lalu terjatuh. “Betul, kan? Dia bukan garuda lagi!”, ujar si pemburu. “Si ahli unggas kembali menangkap garuda dan mengapungkan lagi ke udara. Kembali garuda mengepak dan terjatuh. Si pemburu mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam sayur. Dengan penuh penasaran, si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai pungggungnya sambil membisikkan: “Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkan sayapmu, terbanglah tinggi, lihatlah alam raya yang indah!” Burung dilepas. Dia mengepakkan sayap. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, dan kemudian melesat ke udara, karena dia memang garuda.

Semoga cerita burung garuda ini bisa membangkitkan kembali bangsa ini. Wahai bangsaku. Bangkitlah! Dalam darah kita mengalir darah keperkasaan! Kita bukan bangsa ayam sayur![] Dr. Muhyar Fanani, Dekan FISIP UIN Walisongo.

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*