Breaking News
Home / Kolom Dekan / MUI DAN MEA Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

MUI DAN MEA Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

Salah satu permasalahan terberat NKRI adalah sedikitnya lapangan kerja. Mengapa tanah yang luas dan subur bisa miskin lapangan kerja? Jawaban sederhananya adalah karena rendahnya jiwa entrepreneurship. Mengapa jiwa entrepreneurship kita rendah? Karena kita kurang memaksimalkan akal kita untuk mengolah kenikmatan tanah air kita.

Kedangkalan menggunakan akal ini berimplikasi domino. Dampak dari hal ini adalah banyaknya lahan usaha yang tidak terurus. Dampak berikutnya adalah sedikitnya jenis usaha. Dampak selanjutnya adalah sedikitnya lapangan kerja. Dampak berikutnya adalah banyaknya orang menganggur. Dampak berikutnya adalah banyaknya TKI dan TKW di luar negeri. Dampak berikutnya adalah jumlah penduduk miskin terus bertambah. Jika penduduk miskin terus bertambah sementara dunia sekitarnya terus gemerlap, maka saat itulah akan banyak orang yang frustasi. Bila orang yang frustasi ini tidak ditangani maka akan banyak orang terutama generasi muda yang mudah direkrut kelompok radikal.

Dalam konteks ini, maka MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) menjadi peluang sekaligus menjadi tantangan. Mengapa? Karena MEA bercita-cita ingin menciptakan ASEAN sebagai kawasan yang stabil, makmur, kompetitif, adil, dan merata secara sosial dan ekonomi. Cita-cita ini sesungguhnya adalah visi ASEAN 2020. Cita-cita itu sangat mulia. Kini terbukti berkat ASEAN, wilayah ini tidak mudah diobrak-abrik oleh negara lain seperti yang terjadi di Timur-Tengah saat ini.

Dalam menghadapi MEA, pemerintah Indonesia sudah melakukan sejumlah persiapan bahkan menyiapkan semboyan “Indonesia Tanah Airku, ASEAN Dunia Usahaku”. Bila disiapkan secara baik, maka MEA akan mampu menghindarkan krisis perut (ekonomi) bagi bangsa ini, yang merupakan bangsa muslim terbesar di dunia melalui terbukanya banyak lapangan kerja. Sebaliknya bila tidak disiapkan, maka bangsa ini akan memble. Ini amat berbahaya karena akan memicu tumbuhnya rasa frustasi di kalangan generasi muda.

Dalam konteks ini, maka peran para ulama khususnya MUI (Majelis Ulama Indonesia) amatlah penting. Para ulama memiliki tugas ganda, yakni: (1). Menghimbau pemerintah untuk serius menyiapkan generasi muda Indonesia agar menekuni berbagai bidang yang bermanfaat demi terjaganya harkat dan martabat bangsa. Pemerintah harus menggiatkan generasi muda agar menekuni ilmu pengetahuan setinggi-tingginya agar generasi bangsa ini semakin berbudaya dan berilmu tinggi. Melalui LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), pemerintah telah melakukan ini. Tidak boleh ada lagi anak-anak pintar di negeri ini yang tidak bisa menuntut ilmu hanya karena tidak memiliki biaya. LPDP bertekad untuk membiayai anak terbaik yang dimiliki bangsa ini untuk mengenyam pendidikan terbaik di seluruh dunia. Sayang LPDP baru terbentuk tahun 2010-an. Mestinya sejak memerdekakan diri, lembaga semacam ini sudah terbentuk. Namun, pemerintah harus terus dipantau agar tugas konstitusinya tidak pernah kendor yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. (2). MUI turun gunung. Para ulama perlu terjun sendiri melalui berbagai media pendidikan, baik tulis maupun lisan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pada dasarnya ketiadaan ilmu akan menjadikan manusia bangkrut secara budaya maupun ekonomi. Proses mencerdaskan akal budi telah dimulai sejak era Walisongo dan tidak akan pernah berhenti hingga akhir masa. Repotnya, saat ini muncul cara pengajaran agama yang nirbudaya. Ini harus diwaspadai. Mengapa? Karena akan menimbulkan generasi yang tumpul akalnya dan sakit pula perutnya. Generasi ini akan mengidap sakit budaya dan sakit ekonomi. Mengapa? Karena agama dipahami secara hitam-putih, sebuah cara berpikir yang nirbudaya. Bila cara beragama macam ini terus berkembang di nusantara, maka kemunduran budaya akan terjadi. Apa kita tidak malu dengan Walisongo yang hidup 6 abad yang lalu? Wallahu a’lam[]

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*